![]()
KERINCI-Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BTNKS) menutup sementara jalur pendakian Gunung Kerinci, menyusul peningkatan aktivitas kegempaan gunung di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat itu.
Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah di puncak gunung.
Terpantau jalur pendakian Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 Mdpl, sejak Selasa (6/1/2025) ditutup sementara,
Penutupan itu tertuang dalam pengumuman yang ditandatangani oleh Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Delfi Andra.
”Jalur pendakian melalui pos R 10 Kersik Tuo di Kayu Aro Kabupaten Kerinci dan jalur camping ground Bukit Bontak di Kabupaten Solok Selatan ditutup mulai 6 Januari 2026 sampai dengan pemberitahuan selanjutnya,” ujar Delfi
Dalam keterangan tertulis yang beredar di plafon media sosial, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan, ada peningkatan gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal di Gunung Kerinci pada Minggu (4/1/2026) sejak pukul 11.33 hingga 15.06 WIB.
Terekam 101 kali gempa vulkanik dangkal, 14 kali gempa vulkanik dalam, 27 kali gempa embusan, 26 kali gempa frekuensi rendah, dan 21 kali gempa hibrida. Selain itu, terekam pula 1 kali gempa tektonik jauh, 21 kali gempa tektonik lokal, dan 1 kali gempa terasa dengan intensitas II MMI.
Atas dasar itu, aktivitas Gunung Kerinci saat ini berstatus Waspada atau Level II. Pengamatan visual ke arah kawah puncak Gunung Kerinci pada Minggu pagi hingga pukul 15.19 WIB terlihat jelas. Tidak teramati adanya embusan gas yang melewati dinding kawah puncak.
Meski begitu, Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan tidak mendekati dan beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunung Kerinci. ”Potensi bahaya Gunung Kerinci saat ini berupa gas vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan (pijar) jika terjadi erupsi,” kata Lana dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan analisis data grafik Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) yang digunakan untuk memantau aktivitas seismik gunung berapi, tergambar energi gempa yang fluktuatif dan menunjukkan pola kenaikan drastis (nongradual) pada akhir periode pengamatan.
Kondisi ini diduga terkait kejadian gempa yang terasa. Perhitungan nilai gempa vulkanik dalam menunjukkan nilai 1 detik sampai 2,3 detik. Nilai ini mengecil dibandingkan pada kenaikan gempa-gempa vulkanik sebelumnya yang terjadi pada 31 Desember 2025.
Potensi bahaya Gunung Kerinci saat ini berupa gas vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan (pijar) jika terjadi erupsi.
Hal ini mengindikasikan aktivitas fluida dominan gas pada kedalaman yang relatif besar telah mulai bermigrasi ke permukaan. Pengamatan lebih intensif akan dilakukan untuk antisipasi kenaikan jumlah gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal yang lebih signifikan.
Delfi mengatakan, untuk memastikan keselamatan para pendaki, jalur pendakian Gunung Kerinci terpaksa ditutup sementara. Pihaknya akan terus menginformasikan situasi terkini gunung tersebut.
Gunung Kerinci terletak di perbatasan Jambi dan Sumbar. Gunung itu merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia.
Jalur pendakian Gunung tertinggi du pulau Sumatera ini mempunyai keunikan tersendiri, yakni kondisinya yang masih berhutan tropis, sejuk di sepanjang jalur, dan pendaki disajikan penandatanganan dan panorama yang indah dan luas terlihat dari puncak. Keindahannya menjadikan Kerinci sebagai magnet pariwisata alam yang mendatangkan pendaki dari banyak daerah. (Red)













