banner 728x250

Ini Pesan Terakhir Praka Farizal Rhomadhon Sebelum Gugur “Do’a Kan Saya Bisa Pulang

Praka Farizal Rhomadhon Bersama Istri dan Anak. (Istimewa)

Loading

JAKARTA-Kabar duka datang dari medan tugas perdamaian dunia. Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon, gugur akibat serangan artileri pada Minggu (29/3).

Yang paling menyayat hati, kepulangannya ke Indonesia yang seharusnya tinggal menghitung bulan, kini berubah menjadi kepulangan dalam peti jenazah.

Sebelum berangkat ke Lebanon Selatan, Farizal sempat berpamitan seperti biasa. Tidak ada firasat aneh.

Namun, ada satu permintaan sederhana yang kini terasa begitu mendalam: ia hanya meminta doa agar bisa kembali ke tanah air dengan selamat.

Sang adik, Moh. Fitra Abdul Aziz, mengenang momen tersebut. Ia menyebut kakaknya hanya berharap tugasnya berjalan lancar dan bisa pulang ke Indonesia, bahkan direncanakan kembali pada Mei mendatang jika tidak diperpanjang.

BACA JUGA:  Sudah 5 Tahun Menikah, Pasangan di Batang Merangin Belum Terima Buku Nikah

“Dia cuma minta doa supaya selamat selama bertugas dan bisa pulang,” ungkapnya.

Keluarga benar-benar tidak menyangka kabar buruk itu datang begitu tiba-tiba. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, sementara mereka sedang menanti kepulangan Farizal.

“Tidak ada firasat apa-apa, tiba-tiba pagi hari dapat kabar duka,” kata Fitra.

Farizal dikenal sebagai prajurit berdedikasi tinggi. Lahir di Kulon Progo tahun 1998, ia telah meraih dua penghargaan, yakni Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun.

Ia meninggalkan seorang istri dan seorang putri kecil berusia dua tahun.

Insiden yang merenggut nyawanya terjadi sekitar pukul 20.44 waktu setempat di wilayah Lebanon Selatan.

Serangan artileri yang diduga berasal dari militer Israel menghantam posisi kontingen Indonesia dalam misi perdamaian PBB.

BACA JUGA:  Pemkot Sungai Penuh Gerak Cepat Tangani Longsor di Pelayang Raya

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka mendalam atas kejadian ini, sekaligus mengecam keras serangan tersebut dan mendesak penyelidikan transparan.

Kini, satu pesan sederhana dari Farizal justru menjadi kenangan terakhir yang tak akan pernah dilupakan keluarganya: keinginan untuk pulang… yang akhirnya tak pernah terwujud. (Red)

Sumber: Jawa Pos