![]()
SUNGAIPENUH-Sejumlah siswa dan siswi SMA Negeri 4 Sungai Penuh mendapat kesempatan menyaksikan secara langsung film fiksi panjang Mantagi: Air dan Manusia, karya sutradara Taufik Hidayat Rusti.
Pemutaran film tersebut dilaksanakan dari pagi hingga sore hari bertempat di ruang Aula Kantor Wali Kota, Rabu (16/9/2026).
Film berdurasi sekitar 90 menit itu membawa penonton menyelami hubungan manusia dengan air, alam, budaya hingga kesadaran batin.
Bagi pelajar SMAN 4 Sungai Penuh, kegiatan nonton bareng tersebut menjadi pengalaman berbeda. Mereka diajak menikmati cerita sekaligus memahami pesan yang disampaikan melalui kisah-kisah yang mengambil latar berbagai wilayah di Provinsi Jambi.
Ide Bagus Putra mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapinya adalah ketika harus memerankan dua karakter dalam satu sosok, yakni Jamal dan representasi “hantu air”.
Karakter tersebut menjadi bagian dari pesan film mengenai dampak eksploitasi terhadap lingkungan.
Para pemeran juga menjalani proses pendalaman karakter sebelum pengambilan gambar. Sementara proses produksi film berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
Film Mantagi: Air dan Manusia diperuntukkan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Setelah Lebaran, tim produksi berencana menggelar pemutaran secara keliling sekaligus mengikuti sejumlah festival film.
Melalui genre misteri yang dipadukan dengan unsur spiritual, budaya lokal dan isu lingkungan, Mantagi: Air dan Manusia mencoba membuka ruang refleksi bagi penonton—termasuk generasi muda—untuk melihat kembali arti air, alam dan hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya
Mantagi ‘Air dan Manusia’ karya Taufik Hidayat Rusti langsung selakilu pada Rabu (16/9/2026). Sejumlah siswa dan siswi SMA Negeri 4 Sungai Penuh mendapat kesempatan menyaksikan secara langsung film fiksi panjang Mantagi: Air dan Manusia, karya sutradara Taufik Hidayat Rusti.
Pemutaran film yang difasilitasi Pemerintah Daerah Kota Sungai Penuh tersebut tidak sekadar menghadirkan tontonan bergenre misteri. Film berdurasi sekitar 90 menit itu membawa penonton menyelami hubungan manusia dengan air, alam, budaya hingga kesadaran batin.
Bagi para pelajar SMA Negeri 4 Sungai Penuh, kegiatan nonton bareng tersebut menjadi pengalaman berbeda. Mereka diajak menikmati cerita sekaligus memahami pesan yang disampaikan melalui kisah-kisah yang mengambil latar berbagai wilayah di Provinsi Jambi.
Mantagi: Air dan Manusia dikemas dalam bentuk antologi yang terdiri dari lima kisah. Air dan aliran Sungai Batanghari menjadi benang merah yang menghubungkan setiap cerita.
Alur film membawa penonton menyusuri sejumlah kawasan, mulai dari Danau Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, Merangin, kawasan Percandian Muaro Jambi, hingga Teluk Majelis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Sutradara film Taufik Hidayat Rusti menjelaskan, pemilihan lokasi tersebut bukan semata-mata untuk kebutuhan visual film. Kawasan hulu hingga pesisir Sungai Batanghari memiliki keragaman budaya, bahasa, adat serta kehidupan masyarakat yang kemudian dirangkai dalam sebuah cerita.
“Air tidak hanya menghubungkan wilayah secara geografis, tetapi juga mempersatukan nilai budaya dan kesadaran masyarakat,” ujar Taufik.
Menurutnya, istilah “Mantagi” merupakan istilah lama yang berkaitan dengan kesadaran batin dan budi pekerti. Pesan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam membangun cerita film.
Karena itu, persoalan lingkungan dalam film tidak berdiri sendiri. Cerita juga mengajak penonton melihat kembali bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana hubungan tersebut dapat memberikan dampak terhadap kehidupan.
Libatkan Aktor dan Masyarakat Lokal
Dalam proses produksinya, masyarakat lokal turut dilibatkan, baik dalam proses kreatif maupun sebagai bagian dari cerita. Berbagai benda dan properti khas daerah juga digunakan untuk memperkuat suasana serta identitas lokal dalam film.
Sejumlah aktor dari berbagai daerah di Jambi ikut ambil bagian, di antaranya:
Kerinci
Muhammad Husni Thamrin
Azhar MJ
Merangin
Ide Bagus Putra
Tanjung Jabung Timur
Didi Hariadi
Muaro Jambi
Ahmad Bayu Suwarnadwipa,
Ainun Ja’ariyah,
Iyaas Halim,
Muhamad Sultan Al Fikri,
Muhammad Al Wafi
Haris Mualimin Muaro Jambi.
Ide Bagus Putra mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapinya adalah ketika harus memerankan dua karakter dalam satu sosok, yakni Jamal dan representasi “hantu air”.
Karakter tersebut menjadi bagian dari pesan film mengenai dampak eksploitasi terhadap lingkungan.
Para pemeran juga menjalani proses pendalaman karakter sebelum pengambilan gambar. Sementara proses produksi film berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
Film Mantagi: Air dan Manusia diperuntukkan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Setelah Lebaran, tim produksi berencana menggelar pemutaran secara keliling sekaligus mengikuti sejumlah festival film.
Melalui genre misteri yang dipadukan dengan unsur spiritual, budaya lokal dan isu lingkungan, Mantagi: Air dan Manusia mencoba membuka ruang refleksi bagi penonton-termasuk generasi muda-untuk melihat kembali arti air, alam dan hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya. (Red)













