banner 728x250
Daerah  

Gelar Adat Sebagai Amanah, Bukan Sekedar Kehormatan. Ingak..! Gelea Jateuh Skao Tibea

Ilustrasi. (Ist)

Loading

SUNGAIPENUH-Di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, gelar adat merupakan simbol penghormatan yang memiliki makna mendalam. Gelar tersebut bukan hanya pengakuan atas kedudukan seseorang, melainkan amanah yang mengandung tanggung jawab moral, sosial, bahkan spiritual.

Sayangnya, tidak sedikit yang memandang gelar adat hanya sebagai kebanggaan atau simbol prestise. Padahal, para leluhur mewariskan gelar adat bukan untuk meninggikan seseorang di hadapan manusia, tetapi untuk mengingatkan bahwa semakin tinggi kehormatan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Seseorang yang menyandang gelar adat dituntut menjadi teladan. Mulai dari prkataannya harus membawa kesejukan, tindakannya mencerminkan keadilan, dan keputusannya mengedepankan kemaslahatan masyarakat. Kehormatan yang melekat pada dirinya bukan milik pribadi, melainkan kepercayaan yang diberikan oleh Anak Batino.

Dalam perspektif Islam, setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Nilai ini sejalan dengan filosofi adat di berbagai daerah di Indonesia khususnya Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang mengajarkan bahwa seorang pemangku gelar harus menjadi pelindung, pemersatu, dan penebar kebijaksanaan.

BACA JUGA:  Kapus: Tidak Benar Fasilitas Kantor Digunakan untuk Pribadi. Itu Postingan Lama

Karena itu, gelar adat tidak boleh dijadikan alat untuk mencari penghormatan, memperluas pengaruh, atau memperoleh keuntungan pribadi. Justru, gelar tersebut harus menjadi pengingat agar pemiliknya semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin dekat dengan masyarakat.

Dalam bahasa Kerinci “Dipangae Cepat Tibes”, dipanggil cepat datang. Anak Batino memiliki harapan besar kepada Tuo Taganai yang menyandang gelar adat/Sko.

Mereka bukan hanya ingin melihat pakaian kebesaran, upacara adat, atau simbol-simbol kehormatan. Yang lebih penting adalah hadirnya sosok yang mampu menjadi penengah saat terjadi perselisihan, menjadi pengayom bagi yang lemah, serta menjadi penjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Pada akhirnya, kehormatan sejati bukanlah gelar yang disematkan di depan nama, melainkan manfaat yang dirasakan oleh Anak Batino kehadiran pemilik gelar tersebut. Sebab gelar dapat diberikan melalui prosesi adat, tetapi wibawa hanya akan lahir dari akhlak, kejujuran, kebijaksanaan, dan pengabdian yang nyata

BACA JUGA:  Honor Belum Dibayar. Penjaga Sekolah di Kota Sungai Penuh Mengeluh

Gelar adat akan menjadi mulia apabila dipandang sebagai amanah. Sebaliknya, ia akan kehilangan maknanya apabila hanya dijadikan kebanggaan tanpa tanggung jawab. Maka, jagalah kehormatan adat dengan keteladanan, karena warisan leluhur tidak hanya untuk dihormati, tetapi juga untuk diamalkan. Ingak…!! Glea Jateuh Puskao Tibea.

Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber. (Red)