![]()
SUNGAIPENUH-Kejuaraan Pencak Silat Wali Kota Cup Sungai Penuh I yang seharusnya menjadi ajang prestisius pembinaan atlet justru menuai sorotan tajam. Sejumlah atlet juara dilaporkan tidak menerima medali dan tabanas usai partai final, meski hal tersebut telah dijanjikan sejak awal pendaftaran.
Permasalahan mencuat setelah pertandingan final selesai digelar. Banyak atlet yang keluar sebagai juara mengaku kecewa karena hak mereka tidak diberikan, padahal turnamen ini memungut biaya pendaftaran cukup besar, yakni sekitar Rp250 ribu per peserta.
Kejuaraan ini diikuti oleh ratusan atlet dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kota Sungai Penuh. Peserta datang dari Kabupaten Merangin, Dharmasraya, Solok, Solok Selatan, Tebo, Pesisir Selatan, Lunang Silaut, hingga Kabupaten Kerinci, sehingga kekecewaan pun datang dari luar daerah.
Ironisnya, kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Sungai Penuh pada Kamis (25/12), dan ditutup oleh Ketua IPSI Kota Sungai Penuh yang juga menjabat sebagai Sekretaris KONI Kota Sungai Penuh. Namun, pelaksanaan di lapangan justru dinilai tidak profesional.
“Anak saya juara dan dapat medali emas, tapi sampai sekarang belum menerima medali. Padahal biaya pendaftaran mahal,” ungkap salah satu orang tua atlet kepada wartawan. Ia menilai kejadian ini sangat mencederai semangat sportivitas dan merugikan atlet yang sudah berjuang keras.
Salah satu atlet, Muhammad Iqram, peserta kategori Seni Tunggal Pra Remaja Dini dan Laga Pra Remaja, berhasil meraih dua medali emas, namun juga mengalami nasib serupa terkait ketidakjelasan pemberian medali.
Sejumlah pihak menduga persoalan ini murni kesalahan panitia pelaksana dan pengurus IPSI Kota Sungai Penuh, baik dari sisi perencanaan maupun tanggung jawab terhadap atlet.
Para peserta dan orang tua atlet berharap panitia dan pengurus IPSI segera memberikan klarifikasi resmi, serta menuntaskan kewajiban pemberian medali dan tabanas sesuai kesepakatan awal. Mereka juga meminta evaluasi serius agar kejadian serupa tidak terulang pada kejuaraan mendatang.
Kejuaraan yang sejatinya menjadi ajang pembinaan dan prestasi, kini justru meninggalkan catatan kelam dan kekecewaan bagi para atlet berprestasi. (DD)













