![]()
SUNGAIPENUH-Dewi, hanya bisa pasrah setelah adiknya terlempar dari daftar Sekolah Negeri di Kota Sungai Penuh.
Ia bercerita bahwa dirinya mendaftar adiknya di SMA Negeri. Tapi adiknya tidak diterima lantaran nilai adiknya kalah dari yang lain.
“Padahal aku mendaftarkan lewat jalur domilisi. Tapi tetap yang diukur itu berdasarkan nilai,” keluh dia kepada Wartabaru.cim saat ditemui di kediamannya pada Jum’at 27 Juni 2025.
Dewi baru mengetahui ihwal aturan SPMB tahun ini setelah mencari informasi di internet bahwa penjaringan diukur berdasarkan nilai.
Sehingga Dewi memahami persaingan untuk masuk negeri tahun ini tetap mengutamakan calon murid yang memiliki nilai bagus. “Peringkat adikku sudah ada di 36 dari 49 siswa. Tetapi adikku terlempar,” ucapnya.
Rezky, warga Kota Sungai Penuh menilai SPMB tahun 2025 ini jalur domisili hanya formalitas saja. Menurutnya, jalur domisili menjadi keluhan wali murid
“Dilapangan banyak kita temui orang tua mengeluh dan bingung dengan syarat jalur domisili” kata Risky.
Ia mengistilahkan jalur domisili pada SPMB tahun ini dengan jalur ‘domisili rasa prestasi’. “Karena ujung-ujungnya ternyata yang diukur itu adalah prestasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, memang tak mengurus detil soal aturan jalur domisili. Sehingga semua kebijakan soal syarat dan jumlah rombel tiap sekolah diatur oleh pemerintah daerah. “Jadi memang sekarang ini lebih mengarah memberikan karpet merah untuk mereka yang berprestasi,” tutupnya. (DD)













